Sabtu, 05 November 2011

Aqidah - Aplikasi Keimanan Dalam Berbagai Aspek Kehidupan

Kata Iman berasal dari bahasa Arab yang berarti tasdiq (membenarkan). Iman ialah kepercayaan dalam hati meyakini dan membenarkan adanya Tuhan dan membenarkan semua yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Dalam pembahasan ilmu kalam atau ilmu tauhid, konsep iman terbagi menjadi tiga golongan, yaitu: 
  1. Iman adalah tasdiq di dalam hati akan mujud Allah dan keberadaan Nabi atau Rasul Allah.
  2. Iman adalah tasdiq di dalam hati dan diikrarkan dengan lidah. 
  3. Iman dalah tasdiq di dalam hati, ikrar dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan. 
Sumber: Buku (Tauhid Ilmu Kalam hal. 19), pengarang Drs. H. Muhammad Ahmad

Perbadaan filsafat dan ilmu kalam 
Filsafat berasal dari kata filos yg berarti cinta dan Sophia yg berarti hikmah atau pengetahuan.
Dengan kata lain filsafat berarti cinta terhadap ilmu pengetahuan. Secara istilah filsafat berarti ilmu yg berusaha mencari sebab musabab dari segala sesuatu, memecahkan permasalahan dan mencari kebenaran sesungguhnya. Orang yg menekuni ilmu filsafat disebut filosof.
Dikalangan Islam filsafat dipandang perlu untuk dipelajari untuk menyiarkan, mengembangkan pemikiran, memperkuat dan mempertahankan agama Islam, dalam Islam dikenal sebagai Ilmu kalam. Orang yg menekuni ilmu kalam dinamakan mutakalimin.
Perbedaan keduanya yaitu:
  • Mutakalimin
Cara mempelajari: Nas Agama (Al Qur’an dan Hadits), yang dipelajari hanya terbatas hal-hal yang menurut nas mungkin diketahui.seperti roh, mutakalimin tidak mempelajari zat tuhan.
  • Filosof
Cara mempelajari: Argumen rasional bahkan kadang menggunakan takhwil Al Qur’an, yang dipelajari tidak terbatas bahkan zat tuhan, roh dsb.

Kesimpulan (1) dapat dikemukakan bahwa perbedaan antara ilmu kalm
dan filsafat adalah dalam ilmu kalam, filsafat dijadikan sebagai alat untuk membenarkan ayat-ayat al-Qur’an, sedangkan dalam filsafat sebaliknya, ayat-ayat al- Qur’an dijadikan bukti untuk membenarkan hasil-hasil filsafat.
Kesimpulan (2) Pembahasan dalam ilmu kalam terbatas pada hal-hal yang tertentu saja.Masalah yang dimustahilkan al-Qur’an mengetahui tidak dibahas oleh ilmu kalam tetap dibahas oleh filsafat

Sebagaimana telah diuraikan di muka bahwa akidah (keimanan) mempunyai kaitan yang erat dengan syariat (ibadah) dalam agama Islam dengan diumpamakan sebagai pohon dengan buahnya. Dan sejauh mana antara keimanan dan ibadah terdapat hubungan, atau keimanan dapat mempengaruhi ibadah.
Yang dimaksud dengan akidah dalam pembahasan berikut ini adalah keimanan atau keyakinan, sedangkan syariat adalah amaliah keagamaan seseorang. Dengan demikian, pembahasan tentang hubungan antara akidah dan syariat yang dimaksudkan adalah apa hubungan antara akidah dan syariat disampaikan sejauh mana keimanan dapat mempengaruhi ibadah dan sebaliknya.
Sumber: Buku (Tauhid Ilmu Kalam hal. 39), pengarang Drs. H. Muhammad Ahmad

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, …”
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman, …”
Pada suatu saat dalam kehidupan manusia, ada sekelompok orang dari golongan orang-orang miskin mengajukan keluhan kepada Rasulullah saw tentang kehidupan mereka. Mereka merasa ada yang tidak fair dalam hidup ini, mereka melihat orang-orang kaya melakukan sholat, puasa, dan ibadah-ibadah sunnah lainnya, sebagaimana mereka lakukan, tetapi orang-orang kaya itu bisa bersedekah dengan hartanya, suatu hal yang tidak bisa mereka lakukan. Dikatakan oleh Rasulullah saw;”Maukah kalian aku beri sesuatu yang bila dilakukan kalian akan melampui mereka? Yakni bacalah Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x dan Allah Akbar 33x setiap selesai sholat fardhu.” Setelah sekian waktu berlalu, sekelompok orang dari golongan orang-orang miskin itu datang lagi kepada Rasulullah saw, “Orang-orang kaya itu mengetahui dan juga mengamalkan sebagaimana yang kami lakukan!” “Itulah kehidupan!” jawab Beliau saw. (kuranglebihnya begitu,lebih jelasnya lihat:HR.Bukhori-Muslim)

“Sesungguhnya mengerjakan (ibadah) salat itu akan dapat mencegah seseorang dari melakukan kejahatan dan kemunkaran.”
(Q.S Al-Ankabut: 45)
Ayat ini menegaskan, orang yang melaksanakan salat akan menjauhi diri dari perbuatan jahat dan munkar. Ini tentu apabila salat tersebut dilaksanakan dengan baik dan benar yang disertai dengan penuh keimanan kepada Allah SWT.
Sumber: Buku (Tauhid Ilmu Kalam hal. 40-41), pengarang Drs. H. Muhammad Ahmad 

Dalam Al-Quran disebutkan “berpikirlah tentang makhluk Allah dan jangan kamu berpikir tentang zat Allah, sebab kamu tidak akan mencapai hakekatnya.”
Bentuk, wajah Allah bukan jangkauan akal manusia,sebab akal manusia hanya terbatas pada hal-hal yg bersifat nyata,yang dapat dijangkau oleh rasio.
Dengan keyakinan penuh adanya Allah SWT, maka manusia akan mempercayai Rukun iman yang lain(malaikat,kitab,rasul,hari kiamat dan qodo dan qodar)
Dengan keimanan yang kuat mendorong meningkatnya frekuensi ibadah,sebab ibadah adalah indicator keimanan manusia disamping sikap,tingkah laku dan perbuatan manusia. Dengan kata lain ketebalan iman bergantung pada kualias ibadahnya.memelihara Iman paling penting dengan cara zikir disetiap keadaan, dan selalu ingat akan kewajibannya sebagai hamba Allah.
Orang yang tertanam Iman di dadanya,diikutu amal ibadah dan ditunjang dengan sikap,perilaku dan perbuatan nilai-nilai kethuidan dinamakan muttaqin

Iman dan amal shaleh ibarat dua sisi dari sekeping mata uang. Meskipun konsep iman itu sifatnya abstrak, tapi amal shaleh yang lahir dari seseorang merupakan pantulan dari keimanan tersebut. Itulah sebabnya sehingga sejumlah ayat dalam al-Qura’n selalu menyandingkan iman dengan amal shaleh. Tingkat keberimanan seseorang akan melahirkan prilaku-prilaku kongkrit dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam hubungan itu, sehingga Rasulullah saw. dalam sejumlah hadis selalu mengaitkan tingkat kesempurnaan iman seseorang dengan prilaku sehari-hari. Di antara prilaku yang dijadikan Rasulullah saw. sebagai parameter keberimanan seseorang adalah sejauhmana tingkat kepeduliaan seseorang terhadap sesamanya manusia.
Hadis di atas menegaskan bahwa di antara ciri kesempurnaan iman seseorang adalah bahwa ia mencintai sesamanya seperti mencintai dirinya sendiri. Kecintaan yang dimaksudkan di sini termasuk di dalam rasa bahagia
jika melihat sesamanya muslim mendapatkan kebaikan yang ia senangi, dan tidak senang jika sesamanya muslim mendapat kesulitan dan musibah yang ia sendiri membencinya. Ketiadaan sifat seperti itu menurut hadis di atas menunjukkan kurang atau lemahnya tingkat keimanan seseorang.


Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar